Mother Wise

A lot of people want to do great things for God. A lot of people want to change the world. I just shake my head when I hear that. God is the only one who can change the world because He’s the only one who can change hearts and minds.

Purpose

woman who understand their purpose eventually loved by special man

Goal

The goal of prayer is not to change God’s mind about what you want. The goal of prayer is to change your own heart, to want what He wants, to the glory of God.

Prayer

Prayer was talking and listening and being excited to spend time with someone who loves you.

Love

Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that.

Monday, October 2, 2017

Keintiman dan Kesehatan Mental Keluarga


Akhir-akhir ini banyak kasus konflik pasutri (Pasangan Suami Istri) dan pembrontakan anak justru karena klien tidak bijak mengatur waktu. Apa yang dipersatukan Tuhan justru dipisahkan kesibukan-kesibukan Pelayanan Gereja, disamping agenda kantor yang ketat.
Tanpa sadar, Pemimpin gereja ikut menyumbang potensi kerusakan keluarga, karena membuat jadwal pelayanan yang tidak memperhatikan kebutuhan para pengerja.
Coba perhatikan, agenda terjadwal suami bersama istri atau sebaliknya, nyaris tidak ada. Kebersamaan mengalir begitu saja. "Kalau istri minta waktu" jawaban suami "kalau ada waktu" atau "lihat nanti". Tapi agenda pelayanan gereja sangat jelas terjadwal, ketat, bahkan bersyarat ada sanksi jika tidak disiplin.
Kalau anak minta waktu jalan-jalan hari sabtu, jawaban orangtua: "Bapak ada acara gereja". Hari minggu apalagi. Sibuknya luar biasa. Sementara hari senin sampai dengan jumaat anak-anak sibuk pagi sampai sore bahkan sampai malam.
Perubahan drastis telah melanda institusi pernikahan dan keluarga dewasa ini. Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang luar biasa, antara lain mengubah perasaan, harapan, nilai-nilai dan pola tingkah laku manusia. Perubahan itu, secara langsung ataupun tidak, melanda keluarga. Salah satu dimensi keluarga yang sangat dipengaruhi adalah hilangnya relasi yang intim antara suami-istri.
Setting sosial masyarakat kini melahirkan masyarakat dan keluarga yang makin individualis dan impersonal. Akibatnya manusia makin jauh dari relasi, bahkan dari orang terdekat sekalipun seperti keluarga.
Hal ini kemudian menimbulkan satu keharusan yang sangat bersar dan mendalam akan intimasi. Disisi lain, manusia pada dasarnya adalah maklhuk sosial (sosial being). Artinya, manusia membutuhkan ikatan (bonding) atau hubungan yang intim dengan orang-orang terdekat, khususnya keluarga. Ikatan batin ini penting sebab menjadikan seseorang tahan terhadap stres dan kecemasan. 
Akibat tuntunan kehidupan dan nilai hidup yang mengutamakan uang membuat banyak ibu harus bekerja diluar rumah. Bekerja tentu bukan masalah. namun akibatnya mereka menjadi kurang mempunyai waktu menciptakan hubungan yang saling membangun dengan pasangan dan anak-anak, menambah stress dan konflik tersendiri.
Berkurangnya waktu bersama keluarga, khususnya anak-anak, menambah stress dan konflik tersendiri. Konflik tersebut menurut james levine adalah konflik antara 'mengutamakan kehidupan kerja atau keintiman keluarga'. Ternyata dari beberapa penelitian yang dikumpulkan oleh Levine, tidak hanya kaum ibu yang mengalami konflik atau stress tersebut, tetapi juga kaum ayah. Stres berperanan menciptakan keluarga-keluarga yang disfungsi.

Bahan Dasar menghangatkan Cinta
Untuk menghangatkan cinta dan keintiman ada yang perlu kita usahakan dan latih bersama pasangan adalah:
1. Waktu yang cukup bersama pasangan
2. Bisa jadi teman bicara yang menyenangkan pasangan
3. Punya selera humor dan cakap bercanda
4. Senang membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan.

Intinya selalu memikirkan bagaimana agar pasangan senang dan puas. Untuk menghangat cinta berarti anda harus peduli, bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura. Ada kerelaan memelihara pasangan dan siap memproteksi kebutuhan fisiknya pasangan dengan baik. 
Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan anda rasa aman yang paling mendasar.

Keintiman Tinggi, Stres Rendah
Beberapa hasil penelitian menunjukkan keintiman berkaitan erat dengan stress. Relasi yang intim bisa menjadi semacam benteng bagi efek negatif dari stress. Survei membuktikan, mereka yang intim dengan pasangan, lebih sedikit mengalami syndrom yang berkaitan dengan stress dan paling cepat mengatasi berbagai penyakit. mereka juga paling sedikit kemungkinan kumat dengan penyakitnya dibandingkan mereka yang tidak memiliki relasi yang intim. Untuk itu, orang yang menikah perlu belajar merawat dan mengembangkan keintiman. Sebab keintiman yang paling mendasar. Ini berkaitan dengan kesehatan anda. Secara praktis, berikanlah waktu yang cukup bersama pasangan. Usahakan Anda menjadi teman bicara yang menyenangkan, sedikit ada humor dan canda. Sukalah membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan. Anda tidak hanya fokus pada bisnis dan karir pribadi, sebaliknya perhatikan pada pasangan anda. Berusahalah memikirkan bagaimana agar pasangan anda merasa senang dan puas. 
Merawat cinta berarti peduli, bersedia berbagi menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura. Ada kerelaan memelihara pasangan dan memproteksi kebutuhan fisiknya dengan baik. Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan anda rasa aman yang paling mendasar.

Bentuk-bentuk keintiman yang lain adalah:
1. Keintiman Emosi ini merupakan pengalaman kedekatan secara perasaan, kemampuan membagikan perasaan secara terbuka, dan mendapat perhatian penuh dari pasangan. Wujudnya adalah kerinduan untuk bersama, ada kesukaan ngobrol dan jalan berdua. Intinya, sediakan waktu bermesraan secara emosi.
2. Keintiman Sosial Pengalaman memiliki teman dan kegiatan sosial bersama-sama. Wujudnya, tidak mudah cemburu. Sebaliknya mau akrab bergaul dengan sahabat pasangan anda. Menyediakan waktu ngobrol dan bertemu dengan sahabat masing-masing.
3. Keintiman Seksual (Bagi suami istri) ini adalah pengalaman menyatakan afeksi, sentuhan, kedekatan secara fisik dan aktivitas seksual. Wujudnya adalah punya rasa tertarik pada tubuh pasangan anda sesuai kebutuhan dan kesepakatan, juga kreatif melakukannya.
4. Keintiman Rekreasional Pengalaman membagi kesukaan lewat hobi, olahraga, dan rekreasi bersama. Kemampuan menikmati waktu senggang bersama. Rencanakan berlibur setidaknya dua kali setahun, yang menyenangkan bagi kedua belah pihak termasuk anak-anak
5. Keintiman Spiritual Kemampuan menikmati persekutuan bersama secara rohani, bertumbuh secara iman serta saling mendoakan. Selain menikmati iman yang utuh, perlu saling menguatkan saat pasangan dalam kondisi tertekan  dan banyak pergumulan. Anda menjadi teman sharing menyenangkan dan menguatkan.

Jika anda bisa membangun dan merawat keintiman diatas, maka anda membawa kenikmatan, kepuasan pada pasangan dan diri anda sendiri. Anda menikmati kegembiraan, kedamaian, ketentraman, dan minim stress.
Sebaliknya jika anda tidak merawat cinta dan keintiman dapat membawa hasil yang negatif. Antara lain, mudah sakit, banyak keluhan fisik dan psikis. Akhirnya, perkawinan tanpa keintiman menimbulkan ketegangan dan kesulitan yang mempengaruhi kinerja dan karir anda.
(Sumber: julianto Simanjuntak)

Sunday, October 1, 2017

Cara menghindari persaingan antar anak Kandung

Rasanya bahagia jika antar saudara kandung bisa hidup rukun bersama. Ini adalah kerinduan setiap orangtua. Namun kenyataannya, anak-anak yang tinggal dalam satu rumah pasti akan mengalami sibling rivalry.

Sibling rivalry bisa diartikan sebagai kompetisi antar saudara kandung, baik antar saudara kandung yang berjenis kelamin sama ataupun berbeda. Kompetisi ini bisa berwujud rasa iri hati atau cemburu, persaingan dan juga pertengkaran. Bersaing untuk mendapatkan sesuatu, seperti perhatian orangtua atau mainan baru. Bisa juga bersaing untuk membuktikan sesuatu, seperti berusaha menjadi yang paling berprestasi dalam keluarga, menjadi yang paling disayang oleh orangtua, paling banyak teman, dan lain-lain.

Sibling rivalry bisa mulai terlihat saat hadirnya sang adik. Ada anak yang menunjukkan sikap senang dengan hadirnya sang adik, tetapi banyak yang mulai menunjukkan sikap makin rewel atau semakin tidak mau berpisah dengan ibunya. Ia merasa tidak lagi menjadi yang paling istimewa, karena perhatian orangtua tercurah pada adiknya, waktu bermainnya dengan orang tua berkurang dan keinginannya tidak lagi paling diutamakan.


Persaingan bisa pula berlanjut sampai dewasa, hanya saja berbeda bentuknya. Saat masih anak-anak, yang diperebutkan adalah berebut mainan atau waktu bersama dengan orangtua. Beranjak remaja, bisa muncul karena merasa tugas dan perannya tidak adil dengan yang lainnya, misalnya orangtua dianggap berlebihan atau tidak adil dalam membagi tugas. Contoh: kakak marah karena dia ditugaskan membersihkan meja makan, sementara adiknya boleh langsung menonton TV.

Menjelang dewasa, persaingan bisa berbentuk usaha untuk menjadi “lebih” daripada saudara kandungnya, saling memperlihatkan prestasi yang telah dicapai masing-masing dan ingin menunjukkan keunikan diri sendiri.

Hal yang dimulai dengan rasa iri hati atau persaingan, bisa berlanjut dengan permusuhan yang mempengaruhi hubungan antar saudara dengan munculnya berbagai pertentangan dengan saudara kandung. Seringkali muncul berupa tingkah laku dengan sikap agresif pada orangtua dan saudaranya, perilaku yang tidak taat pada orangtua, mengkritik, mengadu, tidak mau mengalah dengan saudara, mencari perhatian secara berlebihan. Bisa juga mengakibatkan anak menjadi minder dan menarik diri, karena merasa orangtua lebih memenuhi kebutuhan saudaranya daripada dirinya.

Sebenarnya wajar jika muncul persaingan antar saudara kandung. Semua saudara kandung pasti pernah berkelahi dan bertengkar kecil. Tetapi perlu mendapat perhatian lebih lanjut dan penanganan orangtua apabila :

Konflik yang terus menerus dan semakin meningkat.
Perdebatan yang memuncak. Misalnya : mengejek dengan sebutan, berteriak, atau memaki.
Sikap agresif seperti menyerang, mencakar, memukul, menendang, meninju.
Permusuhan yang semakin besar, seperti saling merusak barang milik saudaranya atau merusak hubungan satu dengan yang lain.
Kondisi emosional yang memburuk. Yaitu salah satu atau keduangan merasa tidak disayang atau merasa di-anak tirikan.
Nah, orangtua memegang peran penting meminimalkan dampak persaingan antar saudara kandung agar dapat diatasi dengan baik.  Bagaimana caranya?

#1. Jangan pernah membandingkan anak. Jangan katakan : “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu ?” atau “Coba liat contoh sikap adik kamu, lebih baik dari kamu !”

Maksud orangtua mungkin untuk memotivasi anak supaya lebih baik, tetapi disadari atau tidak, ini pelan-pelan dapat menumbuhkan rasa iri dan tidak suka pada saudara kandungnya. Anak-anak jadi saling berusaha merebut perhatian atau pengakuan dari orangtua atau sebaliknya malah menjauh dari keluarga. Setiap anak perlu mendapat penghargaan akan keunikan pribadinya.

#2. Kembangkan keunikan anak. Jika setiap anak bersaing untuk menentukan siapa dirinya akan memicu persaingan. Orangtua lebih baik memberi tahu bakat istimewa yang dimiliki setiap anak, yang menjadikan dirinya berbeda dengan saudaranya yang lain.

Misalnya, jika anak berbakat dalam melukis, dia yang akan mendapat buku gambar dan mengikuti les lukis.  Anak lain memiliki bakat yang berbeda, maka akan didukung untuk mengembangkan bakatnya.

Hal ini untuk  mengembangkan keunikan setiap anak agar mereka tidak bersaing.

#3. Memberi perhatian dan kasih sayang yang proporsional untuk setiap anak.  Setiap anak mendapat porsi untuk kasih sayang dan perhatian orangtua, menyediakan waktu berinteraksi dengan setiap anak. Tidak hanya perhatian, penerapan disiplin juga ada porsinya untuk setiap anak. Menghindari adanya ‘anak favorit’ atau ‘anak emas’.

Ada penelitian yang dilakukan oleh Katherine Conger, seorang sosiolog keluarga di UCD. Ia mengunjungi 384 rumah anak remaja yang tinggal bersama saudara-saudara, selama tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun, untuk melihat cara mereka berinteraksi dalam keluarga. Ia menyimpulkan bahwa 65% ibu dan 70% ayah memperlihatkan kecenderungan lebih menyukai salah satu anak (ada anak kesayangan).

#4. Hindari keadaan yang dapat memicu persaingan. Misalnya : “Siapa yang bisa memakai baju paling rapi?”, “Siapa yang paling sering sikat gigi dalam minggu ini?”. Lebih baik mengajarkan anak untuk dapat bekerja sama.

#5. Mengakui dan menerima perasaan setiap anak, termasuk perasaan kesal dan marah.  Wajar jika anak-anak merasa kesal pada orangtua atau saudara kandungnya. Mengabaikan begitu saja perasaan mereka akan membuat perasaan mereka terluka. Mengakui perasaan anak saat itu tanpa menghakimi benar atau salah akan membantu anak belajar menguasai emosinya. Anak akan belajar bahwa meskipun ia kesal pada saudara kandungnya, tidak harus diikuti dengan memukul saudara kandungnya.

#6. Mengajar anak melihat dari sisi lain.  Anak-anak sering terlalu memikirkan perasaan diperlakukan tidak adil dan tidak berpikir bagaimana perasaan orang lain. Jadi minta mereka, “Sekarang lihat dari sisi lain. Bagaimana perasaan kakakmu?” atau “Jika kamu di posisi adikmu, bagaimana perasaan kamu?”

#7. Menangani konflik dengan bijak.  Saat anak-anak bertengkar, orangtua sebaiknya tidak segera ‘lompat’ mengatasi masalah. Biarkan mereka berusaha menyelesaikan dulu. Jika orangtua intervensi, sebaiknya orangtua tidak membela yang satu dan menyalahkan yang lain, misalnya: “kakak harus ngalah dengan adik”. Mencari siapa yang benar dan salah akan memunculkan perasaan bersalah di salah satu anak dan perasaan berkuasa pada anak lainnya. Lama-kelamaan yang satu merasa disisihkan dari yang lain, merasa diperlakukan tidak adil, pada akhirnya berdampak pada persaingan yang makin tidak sehat.

Jika anak bertengkar, sebaiknya sikap orangtua :

Tetap netral. Kebanyakan penelitian menemukan bahwa semakin orangtua terlibat dalam pertengkaran anak-anak, akan semakin besar kemungkinan mereka terlibat dalam pertengkaran antar saudara. Mereka perlu belajar cara mengatasi masalah sendiri. Jadi, jangan turun tangan sebelum perdebatan memuncak. Jika konflik semakin panas, tetaplah netral dan beri saran jika anak-anak menemui jalan buntu.
Beri kesempatan setiap anak untuk bercerita. Dalam kasus sakit hati atau bertengkar, beri giliran kepada setiap anak untuk menjelaskan yang terjadi. Dengan demikian orangtua membantu setiap anak dan mereka merasa didengarkan. Ketika masing-masing anak bicara, minta saudaranya untuk memperhatikannya dan benar-benar mendengarkan. Tidak boleh ada interupsi dan semua mendapat giliran. Orangtua perlu mengatur waktu untuk setiap anak memiliki “waktu bicara yang sama banyak.” Setelah saudaranya selesai bicara, kita dapat menanyakan, “Apa yang kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?” Jangan bertanya : “Siapa yang memulai?”  Karena hanya akan mendapatkan versi satu pihak yang justru akan memperbesar konflik lebih lanjut.
Antisipasi dan alihkan. Jika orangtua melihat emosi mereka sudah mulai meningkat atau kesabaran salah satu anak sudah maksimal, itulah saatnya untuk “mengalihkan atau memisahkan.” “Bagaimana kalo kalian memisahkan diri dulu selama lima menit?” Gunakan strategi ini hanya sebelum konflik mereka mencapai puncaknya.
#8. Adakan pertemuan keluarga rutin. Pertemuan ini untuk memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk mengekspresikan perasaan dan masalahnya, serta membicarakan bagaimana mengatasi masalah tersebut. Nah, ada hal yang sangat baik yang bisa dilakukan untuk memulai pertemuan, yaitu dengan meminta setiap anggota keluarga menyebutkan kebaikan saudaranya pada hari tersebut. Walaupun pada awalnya sulit, tetapi jika terus berusaha, maka anak-anak sebenarnya mulai berpikir tentang hal-hal yang baik mengenai saudaranya.


Well, ketahuilah bahwa hubungan dengan saudara kandung adalah salah satu hubungan yang paling lama dimiliki selain hubungan dengan orangtua. Memiliki hubungan yang baik dengan saudara kandung akan menjadi salah satu dukungan utama saat setiap orang mengalami kesulitan, tantangan, dan perubahan hidup.

(Sumber : Big Book of Parenting Solution)

Tuesday, September 26, 2017

Bagaimana menemukan impian kita?


Kejadian 37 : 5 – 10

Kisah ini mengenai Yusuf yang mendapat mimpi tentang masa depannya. Dari sinilah Yusuf menerima sebuah Impian untuk hari depannya. Impian adalah berbicara tentang :
– Tujuan di masa depan
– Sebuah Cita-cita di masa depan
– Kerinduan akan apa yang terjadi di masa depan

Ada orang yang memiliki impian seperti Yusuf, tetapi ada juga yang tidak memiliki impian sama sekali, atau tidak jelas impiannya. Ternyata memiliki impian dengan tidak memiliki impian akan sangat berpengaruh bagi kehidupan kita. Olah sebab itu sangat penting kita memiliki impian dalam hidup kita….Berikut ini 5 Alasan kenapa kita harus memiliki Impian :

1. Impian memberi Arah/Tujuan dalam perjalanan kehidupan kita (Kej 37 : 8)
Kehidupan kita adalah seperti sebuah perjalanan, dimana ada titik start dan titik finish-nya. Kita telah memulai titik start bersama dengan Tuhan sewaktu kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat, setelah itu kita melangkah kearah kemana?
Temukan arah hidup kita dengan menemukan impian kita.

2. Impian membawa pada Kerinduan untuk Maju & Bertumbuh (Kej 39 : 1-2)
Ada beberapa orang yang berada pada “Confort Zone” (Zona Nyaman) dan mengalami kehidupan yang STAGNASI (DATAR), kenapa?
Sederhana saja, mereka tidak tahu akan menuju kemana, menjadi apa, dan berbuat apa. Hal ini dikarenakan mereka belum menemukan Impian dalam hidup mereka.
Impian membuat kita “tidak puas” dengan apa yang telah ada, karena Tuhan memberikan yang “lebih lagi” di masa depan kita. Ingat Impian akan menarik kita kedepan labih maju!

3. Impian memberi Semangat (Kej 37 : 9)
Impian membawa harapan baru. Jika ada sebuah pengharapan baru, tentu kita memiliki semangat baru. Semangat dalam kehidupan inilah yang menjadikan hidup kita menjadi berbeda dengan orang lain!! Hasil pekerjaan orang yang semangat tentu beda dengan hasil pekerjaan orang yang tidak memiliki semangat.

4. Impian memberi Kekuatan disaat lemah (Kej 37 : 24)
Setiap manusia biasa menjadi lemah, termasuk kita. Tetapi bilamana situasi itu terjadi, maka bila kita memiliki mimpi, maka kita akan merasa lebih kuat dalam menghadapinya.
Ingatlah dan bayangkan impian itu setiap kali kita sedang lemah!!

5. Impian MEMULAI penggenapan Rencana Allah atas hidup kita (Kej 45 : 8 – 9)
Setiap manusia memiliki Rencana Allah dalam hidupnya. Jika Tuhan mencipta, tentu Dia memiliki sebuah TUJUAN dan RANCANGAN bagi manusia. Dan Dia juga sangat rindu kita menggenapi RencanaNya dalam hidup kita.
Pada saat kita memiliki impian, kita sedang “memulai” sebuah penggenapan rencana Allah. Memang penggenapan rencana Allah tidak instant, tapi perlu sebuah proses dan waktu, tetapi impian telah membuat itu dimulai!
Milikilah iman pada apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai Rencananya dalam hidup kita.

Bagaimana Cara menemukan Impian?

1. Tuhan memiliki ImpianNya bagi kita
Maz 139 : 16
Ingat : Yang harus kita mimpikan adalah impiannya Tuhan bukan impian kita sendiri!!!
Ciri impian dari Tuhan :
a. Impian itu biasanya lebih besar dari kapasitas / kemampuan kita sekarang
b. Impian itu memiliki tujuan memberkati orang lain

2. Mencari impianNya itu
Habakuk 2 : 1
Tuhan mengajar kita untuk meminta, mencari, dan mengetok supaya kita mendapatkannya.
Carilah impian itu dalam hadirat Tuhan!! Jangan cari impian dari kebutuhan, keinginan kita, tapi cari dalam Hadirat Tuhan!

Paling tidak ada 3 macam impian dalam hidup kita :
a. Impian bagi Pribadi kita
b. Impian bagi Keluarga kira
c. Impian bagi Anak-anak kita

3. Menuliskan dan mendoakan terus impianNya itu
Habakuk 2 : 2
Kenapa harus ditulis? Ini memperjelas mimpi dengan lebih detail. Ingat semakin detail, itu semakin jelas apa yang akan kita capai!

Kenapa didoakan? Iblis tentu saja tidak tinggal diam jika kita memiliki impian Tuhan, dia ingin mengagalkannya. Tapi Doa kita akan menjaga, impian itu bertumbuh sehingga menjadi kenyataan pada waktunya.


Selamat menemukan Impian Tuhan dalam Hidup kita…. Tuhan Yesus memberkati!

Tujuan Allah Dalam Membentuk Keluarga


Di dalam Kejadian 2 : 18 – 25 , kita dapat melihat bahwa INISIATIF untuk membentuk sebuah keluarga adalah inisiatif dari Tuhan.
Karena keluarga adalah unit yang Tuhan ciptakan, maka Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam setiap keluarga.

Namun, banyak anak Tuhan yang tidak menyadari akan hal ini, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan sebagai berikut :

1. Memiliki pola pikir “Apa Adanya”
Keluarga yang demikian sudah merasa ‘puas’, meskipun berjalan apa adanya, yang penting tidak bercerai, tidak selingkuh, dan merasa cukup karena sudah menjalankan tanggung jawab seperti memberikan nafkah bagi keluarga dan membesarkan anak-anak.

2. Memiliki perasaan “Kurang Berguna” bagi Kerajaan Allah
Banyak orang setelah menikah, memiliki pemikiran bahwa dulu saat masih ‘single’ mereka melayani di “Pemuda & Remaja / Youth “, mereka sangat menyala-nyala & berapi-api, tetapi …… sekarang sudah tidak bersemangat lagi. Karena kesibukan dalam pekerjaan & keluarga, mereka merasa sudah tidak berguna lagi di dalam Kerajaan Allah.
Padahal, keluarga sangat penting di mata Tuhan, Tuhan memerintahkan kepada “keluarga” (Adam & Hawa) untuk mengambil alih dunia ( Kejadian 1:28 ).

3. Memiliki “prioritas” yang salah di dalam kehidupan. Seringkali keluarga menjadi prioritas yang terabaikan. Pekerjaan & pelayanan lebih menjadi perhatian & fokus dalam kehidupan seseorang. Kepentingan keluarga menjadi terabaikan, sebagai contoh : suami/isteri & anak-anak yang kurang mendapat perhatian, kurangnya kebersamaan di dalam keluarga,dsb. Urutan prioritas yang benar adalah sebagai berikut :
1.Tuhan
2.Keluarga
3.Pekerjaan
4.Pelayanan

Tujuan Allah bagi Keluarga

Sesungguhnya, keluarga adalah alat Tuhan untuk menggenapi misi Allah. Dan apabila keluarga “tidak memiliki” misi Allah, kita pasti akan merasa bosan, kita akan banyak mengalami masalah dalam keluarga, tidak dapat mengalami berkat-berkat Tuhan, dan tidak dapat memberi dampak kepada dunia.

Ada beberapa hal yang ingin Tuhan bangun di dalam sebuah keluarga, sebagai berikut :

1. Keluarga adalah dasar untuk membangun hubungan & persekutuan yang berpusatkan kepada Tuhan ( Ulangan 6:4-9 ).
Di dalam keluarga-lah, prinsip & dasar hubungan dengan Tuhan dan sesama diletakkan. Sebagai contoh, bagaimana seorang anak akan melayani Tuhan ataupun berinteraksi dengan sesama setelah ia dewasa tidak terlepas dari bagaimana pola asuh yang ia terima dari keluarganya dan sangat terpengaruh oleh prinsip-prinsip yang telah ditanamkan sejak masa kecilnya.

2. Karakter Ilahi ( II Timotius 1:5 ).
Betapa pentingnya kita memiliki standar Ilahi di dalam kehidupan keluarga. Standar Ilahi yang kita tetapkan saat ini, akan diwariskan kepada anak-anak kita dan kepada generasi berikutnya secara turun-temurun.

3. “Beranak-cucu” secara natural & rohani.
Kita akan mereproduksi anak-anak kita dan anak – anak rohani di dalam kehidupan kita. ( Kej 1 : 28 )

4. Berkuasa & memerintah secara rohani dan natural.
Tuhan memiliki rencana agar keluarga berkuasa menghentikan kerja iblis dan menempatkan bumi dalam kuasa rencana Allah. Tuhan memerintahkan untuk mengambil alih dan menguasai dunia ini sehingga memiliki dampak bagi dunia & memperluas kerajaan Allah di muka bumi ini. ( Kej 1 : 26 – 28 )

Semoga Artikel ini membuat kita semakin diberkati dan makin melangkah lebih pasti lagi, karena memiliki pengertian yang berbeda dari konsep dunia ini, dan kita mulai menjalani kehidupan ini semakin Meningkat kearah Tujuan Tuhan.
Tuhan Memberkati

7 ASPEK KEHIDUPAN untuk Orang Muda

Apa sajakah aspek yang harus kita miliki dalam menjalani kehidupan, apalagi kehidupan yang harus dijalani oleh pasangan yang baru saja menikah? Berikut ini ada 7 aspek yang harus dimiliki oleh setiap keluarga muda dan profesional muda (yang nantinya akan menjalani kehidupan rumah tangga), semoga artikel ini bermanfaat. 

1. Aspek 1 : Kerohanian pribadi & keluarga
Setiap keluarga & pribadi ingin mengalami pertumbuhan rohani yang sehat. Banyak yang memiliki problem kerohanian yang tidak sehat dengan alasan : kesibukan pekerjaan, waktu yang habis untuk pekerjaan/lembur, kesibukan mengurus anak-anak, beban dari pekerjaan yang berat, dll.
Tetapi ini tidak boleh menjadi alasan kerohanian kita ‘mandek’. Yesus juga melayani pada usia 30 – 33 tahun dengan kesibukan yang luar biasa, tetapi Dia sanggup menjaga kerohanian tetap “fit” setiap hari.
Keluarga Muda dan Profesional Muda inilah waktunya bangkitkan kembali kerohanian kita!
Excellent Spirit!

2. Aspek 2 : Tujuan Hidup (Destiny)
Ada beberapa keluarga muda dan profesional muda yang tidak mengerti arah tujuan hidup mereka. Mereka hanya menjalankan ‘kehidupan rutinitas’ dengan tanpa arah tujuan yang jelas dan tidak mengetahui kehendak Allah dalam hidupnya. Sangat disayangkan jika ini terjadi, padahal jika mereka menemukan tujuan hidup, maka mereka akan bangkit untuk mengerjakan hal-hal besar bagi dunia ini bersama Tuhan. Seperti Daud, ia berkenan di hadapan Tuhan dan menjadi salah satu orang yang memberi dampak besar dalam sejarah dunia karena ia ‘melakukan kehendak Allah pada jamannya.’ ( Kis 13 : 22 )
Keluarga Muda dan Profesional Muda ini saatnya menemukan Tujuan Allah bagi hidup kita!
Excellent Life!

3. Aspek 3 : Keluarga
Setiap orang lahir dari sebuah keluarga, hidup dalam sebuah keluarga, dan akhirnya akan membentuk sebuah keluarga. Lihatlah di dunia ini begitu banyak keluarga yang “cacat”, artinya : Keluarga tidak mengalami kehadiran Tuhan Yesus di dalamnya, Keluarga tidak berfungsi sebagaimana mestinya, Keluarga tidak memiliki kebahagiaan, Keluarga tidak mengerti apa arti keluarga sesungguhnya.
Inilah waktunya, bangkitnya keluarga-keluarga yang excellent!
Excellent Family!

4. Aspek 4 : Pengembangan Diri & Karakter
Tuhan telah mengaruniakan kehidupan kepada manusia beserta dengan potensi, talenta dan karunia. Setiap kita harus mengembangkan diri kita dalam hal potensi diri, talenta, karunia dan juag KARAKTER. Hal ini akan membuat kehidupan kita menjadi maksimal sesuai dengan kehendak Allah.
Maksimalkan potensi anda dan karakter anda mulai saat ini!
Excellent Character!

5. Aspek 5 : Pekerjaan & Karier
Pekerjaan telah menjadi suatu bagian besar dari kehidupan seorang manusia. Manusia juga diciptakan untuk bekerja. (Adam diperintahkan untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden – Kej 2:13). Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagian saja yang “sukses” dalam pekerjaannya, tetapi sebagian yang lain “gagal” dan menjadi “biasa saja” dalam pekerjaannya. Tuhan tentu saja menghendaki pekerjaan yang berhasil! Oleh sebab itu kita harus melatih diri menjadi “pribadi yang sukses”!
Excellent Carreer!

6. Aspek 6 : Generasi Penerus (Anak-anak)
Anak adalah “pusaka” Allah yang diberikan kepada sebuah keluarga. Tentu tidaklah mudah untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang takut akan Allah, mempunyai masa depan yang luar biasa dan menjadi ‘anak panah’ yang akan mengalahkan musuh-musuhnya ( Mazmur 127 : 3-5 ). Setiap keluarga perlu melatih anak-anaknya sedini mungkin untuk mempersiapkan mereka menjadi generasi yang luar biasa di masa yang akan datang.
Inilah waktunya melatih generasi penerus bersama Tuhan!
Excellent Next Generation!

7. Aspek 7 : Pelayanan Berdampak
Sebuah kebutuhan yang mendasar dari seorang pribadi adalah melayani orang lain dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita akan sangat senang/bahagia jika kita dapat menolong orang lain. Tentu saja kita harus mengerti konsep pelayanan yang sesungguhnya, supaya kita dapat melayani dengan benar dan pelayanan kita akan berdampak nyata serta membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.
Layanilah saat kita masih memiliki banyak kesempatan untuk melayani !

Excellent Ministry!

Sekian dulu tipsnya, artikel ini ditulis oleh ibu lily yang memiliki talenta dibidangnya dalam melayani keluarga  saya diberkati sekali oleh beliau.
Tuhan memberkati!